Catatan Pendakian: Gunung Sumbing

DSCN3375

Pendakian kali ini gak dadakan seperti biasanya. My previous hiking mate has invited me over to join the team and they were planning to get to the top of one of the twin mountain, Sindoro-Sumbing. They picked Sumbing and I just came along with the idea because I have no idea which one is better. Lagi-lagi isi timnya adalah anak-anak unit U-green kampusku, tentu saja karena yang mengajakku adalah si Dargo. Tapi secara random aku mengajak kawan-kawanku yang lain walau yang berhasil diajak hanya seorang saja, idolaku si Risa atau biasa kupanggil mbak Risa. Lengkap sudah tim kami terdiri atas 7 orang: Dargo, Risa, Aris, Addo, Zaenal, Kholif, dan aku.

2/10/15

Hari jumat kami janjian untuk berangkat bersama dari kampus seusai kuliah. Pukul 4 sore aku sudah menunggu yang lain di dekat gerbang SBM, sampai akhirnya muncul empat orang: Aris, Dargo, Kholif, dan Zaenal. Aku agak kaget (sebenarnya kaget banget) karena mestinya ada satu lagi perempuan tapi ternyata dia tidak ikut. Jadi panik khawatir mbak Risa batal gabung juga, kalau gitu kan aku perempuan sendiri!! Tapi mereka meyakinkan bahwa mbak Risa ikut dan langsung ke terminal, hanya tidak bareng dari kampus saja. Kami berlima berangkat ke terminal Caheum naik angkot Caheum-Ledeng. Singkat cerita kami naik bus Budiman ke Wonosobo, tapi kami turun di rumah kak Addo si sarjana jam 2 pagi, numpang tidur dan makan gratis. Receiving warm hospitality from his parents I can’t thank them enough.

3/10/15

Pagi setelah mager-mageran kami bertujuh diantar Ayah kak Addo ke kaki Sumbing. Cerah, kawan! Entah mengapa aku selalu dikarunia langit cerah tiap mendaki gunung hehe. Kami langsung memulai pendakian pukul 8.50 lewat jalur baru. Buset cape banget baru mulai juga. Untung saja rekan-rekanku ini bodor semua, cair sekali suasana pendakian kami. Walau lelah tapi dibawa enjoy.

DSCF4229

IMG_1462

Sumbing bisa dibilang gunung yang agak botak. Kalau gunung sebelumnya aku menikmati teduhnya pepohonan, kali ini betul-betul hampir selalu terpapar sinar matahari. Tak mengapa, hawa Sumbing yang lumayan sejuk mampu menetralisir gerah akibat terik yang menyengat.

Kami mendaki dan berkali-kali istirahat. Aris dan kak Addo hampir selalu memimpin di depan. Kholif dan Zaenal mengambil posisi belakang. Tentu saja aku jadi bisa membuktikan sendiri kalau mbak Risa layak jadi idolaku. Fisiknya itu kuat banget untuk seorang perempuan! Dargo sedang agak sakit, dia sama sepertiku hampir selalu ada di tengah rombongan.

DSCF4242

Dari kiri ke kanan: Zaenal, Kholif, Aris, Risa, aku, Dargo, dan Addo.

Aduh maaf aku tak begitu mengamati nama-nama pemberhentian dan rute, karena jalurnya baru jadi tidak banyak spot yang diberi nama khusus, pun aku tak begitu yakin ada berapa pos yang dilalui. Kami sempat berhenti agak lama untuk solat dan makan siang roti bakar ala chef Aris.

DSCF4257

IMG_1474 DSCF4269 DSCF4281

Sampai di area yang betul-betul tidak ada pohon rindang, medannya berbatu dan cukup menanjak. Kutaksir sekitar pukul 14.30 kala itu. Para veteran pendaki dalam tim memperkirakan bahwa tidak cukup waktu untuk mendaki sampai dekat puncak sebelum gelap dan fisik kami sudah payah. Yasudah akhirnya kami ngecamp dan masak-masak.

IMG_1496

Malam itu kami makan nasi goreng dan minum macam-macam minuman hangat. Aku ingat betul bajigur yang dibawa mbak Risa kala itu enak sekali, tapi terasa biasa saja setelah aku pulang dan membuatnya di kosan. Ternyata memang benar, apapun yang dimasak di gunung akan terasa sangat nikmat asal hangat. Menjelang petang sedikit hujan menyertai dingin Sumbing yang menusuk. Aku dan mbak Risa tidur setenda sementara yang lain berlima di tenda besar.

4/10/15

Pukul 2 pagi kami dipaksa bangun entah oleh siapa karena memang sudah direncanakan begitu. Mengejar sunrise kawan. Ini semacam ritual penting tiap naik gunung yang sayang sekali jika dilewatkan. Baru pukul 2.30 kami beranjak dari tenda menuju puncak. Ah paru-paru ini rasanya masih kaget untuk beradaptasi lagi dengan laju pendakian di tengah dingin pagi Sumbing. Pukul 5 kami belum sampai puncak tetapi mentari sudah menjelang. Tak mengapa, sesampainya di puncak masih kami dapati beberapa menit momen sunrise itu. Solat dan makan adalah dua hal yang tidak boleh dilewatkan! Puncak Sumbing setinggi 3371 meter di atas permukaan laut jadi tempat tertinggi yang pernah kutapaki hingga tulisan ini dibuat. Puncak kepala tiga memang beda dengan yang kepala dua apalagi satu. Dinginnya begitu lebay walau mentari sudah tinggi. Apa lagi yang kami lakukan kalau bukan jepret sana sini!
IMG_1560 IMG_1578IMG_1598

DSCN3382

IMG_1655DSCF4383

DSCF4396

DSCF4400

Kami sampai kembali di tenda sekitar pukul 9 dan makan lagi. Makan melulu, pantesan ga kurusan walau sudah capek capek muncak. Usai packing kamipun turun mengambil jalur lama. Sama saja, pasirnya alay hingga tak terhitung berapa kali aku jatuh terpeleset, membuat orang di depanku keseleo. Turun gunung dengan medan batu dan pasir membuat jari-jari kaki perih tak karuan. Tiga perempat perjalanan akhirnya aku lepas sepatu dan pakai sandal gunung. Ternyata jemari kakiku berdarah sedikit di dalam kuku. Sakit woy. Memakai sandal ketika sudah selesai lewat medan berpasir adalah opsi brilian. Lajuku jadi lebih cepat sebab luka di kaki sudah tidak tertekan oleh mulut sepatu. Perjalanan turun lebih kurang memakan 4 jam. Setibanya di dasar aku mandi, baru kali ini langsung mandi begitu turun gunung. Keren kan. Kami sampai kembali di Bandung keesokan paginya setelah naik bus dan angkot yang sama.

DSCN3383

IMG_1668

Muncak kali ini sangat berkesan sebetulnya. Tapi karena terlambat ditulis, euforia Sumbing di benakku sudah lama hilang terkikis pahitnya perkuliahan. Maafkan kisahku yang datar ini kawan. Oh ya kalau kamu berkesempatan melakukan pendakian kemari, mau Sumbing ataupun Sindoro, jangan lupa pulangnya beli Carica di Wonosobo. Enak betul rasanya, aku tidak bohong.

Sampai jumpa di adventure selanjutnya!

IMG_1676

P.S.: Sorry for posting too many pictures! Each of them were too beautiful to miss out and I want you guys to have a look on how great it felt to climb a mountain.

Catatan Pendakian: Gunung Cikuray

11873655_1197298616952296_3918999704714459427_n

Was one unexpected journey along with the other three pals.

17/08/15
Meeting point kami di kubus, depan kampus. Setelah ngaret satu jam kami berempat bertemu satu sama lain. Ini pertemuan pertamaku dengan mereka setelah libur panjang 3 bulan di akhir tingkat 3 lalu. Lia, dargo, wildan. Mereka saling terikat dalam unit u-green, sementara kedekatanku hanya sebatas teman sejurusan dengan lia dan dargo. Aku baru mengenal wildan.
Setelah mempersiapkan dengan matang segala keperluan, kami berangkat ke Garut dengan sepeda motor. Perjalanan panjang yang bikin pantat sakit, ditambah harus melewati macetnya pawai 17-an di bawah terik matahari.

Empat jam kemudian kami sampai di dasar Cikuray. Jalanannya benar-benar bukan untuk sembarang kendaraan. Pukul 12.30 kami istirahat sejenak untuk sholat. Cikuray sedang kering. Kami bahkan terpaksa berwudhu pakai air minum bekal meski masih di kaki gunung. Sekitar pukul 13.30 kami tancap gas naik gunung sungguhan. Hari itu ada 1600-an orang sedang turun gunung. Rupa-rupanya mereka naik tanggal 16, agar bisa melakukan upacara bendera di puncak pada pagi 17 Agustus. Namun ide itu terlalu mainstream sehingga dapat dibayangkan betapa penuhnya puncak pagi itu. Dan memang, saat kami naik melalui kebun teh, pasir tak kunjung reda bertaburan di udara. Medan Cikuray yang mayoritas terlapisi pasir tebal, ketika dilalui akan menjadikan pasir-pasir yang terdorong kaki beterbangan di udara. Bayangkan saja ratusan orang turun berbarengan dengan kami yang baru naik. Sulit sekali rasanya untuk sekedar menghirup napas!
Aku bahkan galau antara ingin pakai masker menghindari kemasukan pasir, atau tidak pakai biar lebih mudah mencari-cari oksigen. Dari awal langsung ketahuan akulah yang paling lemah. Kesulitan mengatur napas bikin badan cepat ingin berhenti tiap baru mendaki sedikit. Untungnya mereka bertiga pengertian. Namun lama kelamaan intensitas pasir menurun dan staminaku pun mulai stabil, sehingga bisa cukup seirama dengan yang lain. Kalau kata dargo, paru-parunya udah kebuka jadi lebih enak. Aku sebenarnya ga paham paru-paru kebuka tuh bagaimana.

Setelah sekian lama mendaki, aku jadi sadar kalau trek ke puncak benar-benar menanjak tanpa ada bonus! Kurang ajar betul. Tapi kami berempat menyanggupi untuk lanjut terus pantang mundur.
Menurut dargo yang sudah pernah kemari sebelumnya, kami akan menemui sebanyak 7 pos. Namun perjalanan dari pos 1 ke pos 2 yang sangat lama mulai bikin desperate. Padahal hari sudah semakin sore. Tiap bertemu pendaki yang turun, mereka akan menyemangati kami dengan gayanya masing-masing. Ada yang bilang dikit lagi, ada juga yang bilang masih jauh. Kami tak ambil pusing dan terus mendaki. Tiap bertemu pendaki, kelihatan lah kalau dargo itu super ramah dan pintar bergaul sama orang baru. Mau ga mau kami juga ketularan ramah ke orang-orang. Sampai di pos 4 hari mulai gelap, sialnya kami ketemu babi hutan. Saksi mata alias dargo bilang si babi seukuran anak sapi. Dari situ kami mulai parnoan. Setelah beberapa kali putar balik dan maju lagi untuk menghindari segala kemungkinan perjumpaan dengan hewan buas, akhirnya kami mulai kehabisan tenaga pukul 9 malam. Saat itu pos bayangan sudah dilewati dan sedikit lagi sampai puncak. Dingin yang menyergap dan ketidaktahuan akan seberapa jauh sisa trek yang harus dilalui membuat kami mulai meyakinkan diri untuk berhenti. Yak, ngecamp dulu.

Dan memang, dingin banget malam itu. Aku buru-buru pakai jaket dua lapis sebelum kami pasang tenda. Walau sudah ngantuk berat, tetap perut harus diisi lebih dulu. Minuman hangat dan nasi agak keras pun lewat kerongkongan. Tak lupa sholat untuk menutup hari yang melelahkan. Kami susah tidur gara-gara ada bunyi langkah kaki di sekitar luar tenda yang kedengaran seperti berjalan mengelilingi tenda kami. Serem abis. Padahal di luar tidak ada nyala senter, gelap; pekat. Walau takut, tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.

18/08/15
Pukul 4 dargo heboh ngebangunin. Dingin cuy. Lia dan wildan mager parah dan kami hampir saja melewatkan kesempatan buat ngejar sunrise. Untungnya kami memaksakan diri untuk menyentuh hawa pagi Cikuray yang dinginnya kurang ajar. Setelah siap-siap secukupnya, kami cus carrier-less nanjak ke puncak (kecuali wildan yang bawain makanan). Ringan betul! Setelah kemarin seharian nanjak tanpa bonus dengan carrier yang berat, sekarang kami jalan tanpa beban. Dan tak diduga, jarak dari camp ke puncak tidak sampai 1 jam.

Puncak, kawan. 2821 meter di atas permukaan laut! Belum genap pukul 5 pagi dan kami sudah disana. Mentari belum hadir, tak banyak orang, suasana masih cukup gelap. Aku mendongakkan kepala dan hamparan langit berhias gemintang tersaji indah di angkasa. Siapa yang tak bahagia bisa stargazing dengan pemandangan sejernih ini? Bahkan tidak sulit untuk membedakan sabuk Orion di antara beribu gemintang yang tampak. Langit, kawan. Selalu membuatku takjub.

Rupa-rupanya kami berempat memang banci kamera. Jepret sana jepret sini. Apalagi ketika mentari mulai terbit, kami tak hentinya mengabadikan momen sunrise tersebut. Mungkin lain kali, ketika aku menggapai puncak lain, aku akan lebih banyak duduk menikmati pemandangan yang cuma sebentar itu.
Mulanya aku mengira di sekeliling puncak tertutup oleh kabut tebal, tapi tentu saja aku salah. Selimut awan tebal terhampar luas ke sepanjang horizon!
Tak lama usai momen sunrise lewat, kami menyusuri sisi lain dari puncak Cikuray, dan menemukan segitiga bayangan gunung Cikuray terbentuk akibat pantulan sang mentari. Indah betul! Dari puncak kami bisa melihat puncak-puncak lain menjulang di kejauhan. Membuat kepalaku berandai-andai seperti apa medan gunung-gunung tersebut dan kapan aku akan mendakinya.

11873531_1197290726953085_1164253262186465042_n

11934971_1197294456952712_335915504823525254_n

11935025_1197294350286056_8118075265118324016_n

11923244_1197275873621237_6957230401360216929_n

Usai pagi yang indah kami sarapan di puncak. Semua kuserahkan pada yang jago masak pakai misting dan peralatan hiking. Pagi itu kami makan sarden. Setelah puas kami kembali ke camp dan beristirahat 1 jam sambil packing untuk turun gunung. Tak terasa semua begitu cepat berakhir. Karena puncak telah dicapai jadi saatnya untuk pulang. Dan kawan, turun gunung jauh lebih mudah daripada naik. I barely felt tired at all. Sepanjang turun aku diikuti lebah iseng yang terus-terusan terbang mengelilingi kepalaku. Tentu saja aku parno dan panik. Tapi untungnya tak sampai disengat.

Perjalanan yang menyenangkan, dengan lia yang heboh tapi sedang pilek, wildan yang tenang tapi galak waktu aku parno gara-gara lebah, dan dargo yang super mengayomi dan dapat diandalkan di semua situasi!

11896127_1197293550286136_7063089825315577365_n

11035688_1197295060285985_1408079825028335193_n

11870872_1197294690286022_8413133979991757798_n

11870928_1197294963619328_2673007524277886320_n

11923195_1197294176952740_3841347361117340292_n

11915670_1197298846952273_5149567243070209664_n

11889602_1197282133620611_5330937089239578391_n

A sweet escape before the campus life begins all over again.
Walau singkat, tapi pengalamannya sangat berarti, kawan. Manis semanis madu!

Bisa jadi aku vakum lagi dari naik gunung, atau justru dapat kesempatan jadi pendaki ulung akibat ketagihan. Yang manapun, semoga dapat partner yang sama asiknya dengan mereka.