My kind of books

Kalau dipikir lagi sekarang, jadi makin bersyukur dulu masuk spensa dan ga ikutan jalur umum demi impian masuk smp 3 (yang semata-mata pengen cuma karena top chart persaingan smp negeri di malang). Memilih masuk kelas sbi yang berkesan eksklusif saat itu, aku jadi kenal sama teman-teman yang benar-benar cerdas nan ambisius dan terpacu buat belajar lebih keras. Dan ternyata memang bukan omong kosong embel-embel sbi ini. Pendidikan bahasa inggrisnya ngena banget bagiku sepanjang 3 tahun di spensa, my favorite teachers pak sis dan bu ros, they really taught us big games. Aku mendalami grammar maksimal dari mereka, yang kalau menurutku bakalan kurang dan butuh les tambahan jika bukan orang-orang seperti mereka yang ngajar. Ditambah pelajaran-pelajaran utamanya yang diajarin pake bahasa inggris, ngasah banget sih bagiku. Keunggulan lain sekolah di spensa adalah lokasinya yang tinggal jalan kaki dikit ke perpus umum kota malang. Ah, my favorite space. Satu-satunya yang kubenci soal perpus umum ini cuma pemilihan warna cat bangunannya. Masa di jalanan ijen yang anggun doi selalu mentereng di pojokan dengan warna-warna norak. Dulu pake orange-kuning masih forgivable lah ya. Lha kok sekarang pake ijo-pink. Apa-apaan woi.

Bacaan yang sering kucari kalau ga komik ya novel. Aku ndak malu sih. Bahkan jaman sd aku bacanya novel KKPK mizan, 2 buku yang aku cinta banget itu Ibu tulisannya sri izzati sama buku tentang persahabatan aris ipin dimana aris harus hidup di gerbong tak terpakai di stasiun dan putus sekolah karena ortunya bermasalah (they divorced if I’m not mistaken) yang aku lupa judul maupun penulisnya. Apparently sri is my friend’s best friend and it’s kinda awkward seeing my childhood role model as a normal being lol. She grew up into a great woman.

Walaupun sekarang udah ga begitu tertarik baca fiksi dan lebih ke buku-buku pengetahuan maupun self help, tapi karya fiksi tetep punya tempat khusus di hati. Genre favoritku berkisar dari cerita misteri, petualangan, sampai novel-novel serius yang kadang awkward ngebacanya macam “I don’t know how she does it” (later i learnt that her job was pretty much what I dreamt of doing in a bank; trading forex). Buku fiksi luar yang kugandrungi sangat banyak ku tak sanggup nyebutin, mostly adventure books. Sementara fiksi indo yang cukup membekas ya tulisannya andrea hirata. I remember convincing my friends to read it before it eventually rose to fame but they ignored me lol. Ciri khas andrea dalam nyeritain kisahnya ini ada di penuturan deskriptif latar yang bikin aku melayang-layang ngebayangin berada di dalam ceritanya beneran. Contohnya waktu dia cerita ikal dan bapaknya pergi jemput arai yang tinggal sebatang kara. Bah aku beneran kebayang rumahnya yang berdiri sendiri di tengah ilalang luas, arai dengan penuh harap nungguin siapapun untuk ngubah nasibnya. Aku jatuh cinta sama sosok arai yang selalu positif. Gila ini novel motivasi bukan main yang membuat jiwa anak smpku berapi-api untuk belajar keras. Selain itu juga 5 cm nya Donny D. That book was thrilling enough to read, salah satu triggerku penasaran sama pengalaman naik gunung. Sayang adaptasi filmnya menghempaskan fantasi sempurnaku tentang novelnya. Gapapa, sudah kubuktikan sendiri kalau naik gunung tetep seseru yang di novel dan tidak se-nonsense adaptasi filmnya.

Selain itu, pertama kali aku ngintip dunia hukum ya waktu iseng baca novelnya jodi picoult yang bertebaran di rak buku sana. Buku yang ini cerita tentang seorang adik bernama anna yang dilahirkan oleh orangtuanya (secara implisit dengan niat) sebagai pabrik organ buat kakaknya yang kanker, kate. At some point when the cancer got so bad it resulted in kidney malfunction, the parents kindly asked anna to donate one of her kidney for kate. She never refused before. But strangely, this time she argued. Anna then stubbornly went to hire a lawyer. Mind you, she looked for the most expensive lawyer whom she barely could afford paying his hourly fee for giving mere advice. She was just a little kid! Though afterwards, her persistence bought his attention. The plot was really interesting where picoult used different first person POV on each chapter. And the ending was mind blowing; at least for me. I better not spoil it to you lol. Chances are, you guys already either read it or watched it. Title is my sister’s keeper. What I find interesting in this book is how lawyer and the judge are doing their job, beside the family conflict.

Dan belakangan ini drama korea yang mengusung genre legal makin bertebaran. Seru meski memang sering didramatisir. Membuatku bertanya-tanya, kenapa aku ga melirik kuliah hukum ya dulu? Barangkali alasan personal. Kebencian pada sosok oknum yang mengemban salah satu profesi tersebut membuatku enggan nyemplung kesana. Ah, my little innocent ass.

Mempertanyakan kenapa aku dulu ga ini kenapa aku dulu ga itu rasanya pointless ya. Makanya fokus menata masa depan, perhitungkan baik-baik tiap langkah, perbaiki kesalahan-kesalahan, dan nikmati hidup. Selamat lebaran!

Pesan untukku

Seberapa banyak pun aku tau tentangmu, -nya, kalian, mereka; aku tidak tau apa-apa.

Aku tidak tinggal di kepala kalian.

Yang paling bisa kupahami sepenuhnya adalah diriku sendiri. Begitupun kalian.

Tanggung jawab untuk menjadi lebih baik, pun dalam memanusiakan manusia lainnya; ada di tangan masing-masing.

Aku tak peduli dengan pendapatmu atas pilihan-pilihan hidupku.

Yang kutau, kita semua memiliki ketidakberdayaan, kesulitan, kesedihan, dan titik hampa di diri masing-masing; apapun bentuknya.

Tak perlu mendoakanku dapat hidayah. Memahami pilihanku sebagai hal yang negatif adalah persepsimu, bukan -ku.

Tak perlu kecewa atas keputusan yang kuambil. Akulah yang menjalani dan bukan engkau.

Tak perlu merendahkan terlebih menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih baik tentang dirimu.

Mengapa tak menggali potensi diri saja lalu mengembangkannya? Merasalah lebih baik atas perkembangan dirimu, itu lebih berkelas.

Kuharap kita semua bisa perlahan membuang tiap keinginan untuk menilai orang lain atas keburukan mereka dalam persepsi kita.

Kuharap kita semua belajar untuk menutup mulut dari perbincangan yang tak bermanfaat.

Yang kupelajari adalah kita bisa menghilangkan kebiasaan buruk dengan berhenti melakukannya. Tak ada cara lain. Akui bahwa kebiasaan buruk tak membuatmu bernilai baik.

Jika aku terdengar menggurui, tak perlu kesal. Karena aku hanya sedang menggurui diri sendiri.