Hermeneutics

Mungkin banyak agnostik bertolak ukur bahwa Tuhan itu ga bisa dibuktikan. Kalau Tuhan itu cuma ‘ide’ yang dibuat manusia, bukan ‘bentuk nyata’. Lalu minta Tuhan dibuktikan. Dengan minta pembuktian, agnostik sejatinya berdiri di atas dasar filsafat positivisme, dan seakan-akan theis juga berdiri di situ.

Filsafat positivisme menegaskan, sesuatu disebut benar kalau disertai bukti-bukti faktual rasional. Sains bertolak dari filsafat ini. Positivisme, filsafat yang lahir di Barat abad 19, seakan menjadi satu-satunya “kriteria” kebenaran ilmiah, sebagian karena supremasi sains. Dengan supremasi sains, pendekatan non-positivistik dalam menemukan kebenaran seperti kehilangan pamor, gak valid. Setidaknya di abad 19. Namun sejatinya, positivisme tak sepenuhnya diterima sebagai satu-satunya yang valid. Ada penolakan, setidaknya dalam humanities dan ilmu sosial. Keberatannya: positivisme dengan pembuktian empirik, kausalitas, dan lain-lain, mungkin tepat untuk nature. Tapi gejala-gejala manusia dan masyarakat kan beda dengan alam. Berbeda dengan gejala alam, fenomena manusia dan masyarakat itu sifatnya unik dan tak terulang. Untuk menemukan kebenaran tentangnya, perlu cara lain.

Hermeneutika tadinya terkait dengan ilmu penafsiran teks kitab suci. Tapi oleh Dilthey diperluas jadi penafsiran tentang gejala-gejala manusia. Hermeneutika filosofis yang berporos pada makna tersebut melahirkan soal bagaimana makna diperoleh: dengan ditemukan, atau diciptakan? Mereka yang meyakini makna itu diciptakan (oleh kita sendiri) diwakili oleh kaum filosof eksistensialisme seperti Camus dan Sartre. Ini berbeda secara diemetral dengan positivisme yang berporos pada alam, yang berarti berporos pada obyek sebagai fokus dan standar kebenaran.

Pada positivisme, cara untuk mengecek kebenaran adalah dengan pembuktian/verifikasi, apakah suatu pernyataan cocok dengan kenyataan. Sementara pada hermeneutika, cara untuk mengetahui kebenaran “makna” yang dihayati si subyek adalah dengan memahami makna tersebut dari dalam.

Nah termasuk dalam ranah pengalaman manusia soal iman dan agama sebagai pengalaman kebertuhanan. Apakah eksistensi Tuhan bisa dibuktikan? Idea or form? Argumen ini terjebak dalam ‘category mistake‘, salah nempatin kategori. Category mistake itu kesalahan dalam mengklasifikasi sesuatu berdasarkan kategorinya. Akibatnya: salah dalam mengambil pendekatan. Memakai positivisme untuk eksistensi Tuhan mengandaikan eksistensi Tuhan berada dalam ranah faktual positivistik. Tapi ini menurut siapa? Itu keyakinan kaum positivis sendiri. Soal eksistensi Tuhan dimasukkan dalam ranah positivis untuk kemudian ditolak karena tak terbukti.

William James dianggap sebagai salah seorang perintis pendekatan baru tentang agama yang berfokus pada religious experiences tersebut. Fokus pada pengalaman agama ini terkait dengan maraknya hermeneutika filosofis di Barat, yang juga fokus ke ranah meaning. Dengan kata lain, fokus pada religious experiences terkait dengan penolakan terhadap positivisme sebagai metode untuk membedah Tuhan dan agama. Dari penekanan kepada religious experiences itu lalu muncul pemaknaan baru tentang Tuhan dan keber-Tuhan-an, dan tentang agama. Misal, filosof agama Rudolf Otto menyebut pengalaman ketuhanan sebagai pengalaman manusia terhadap apa yang mereka yakini sebagai The Holy, The Sacred. The Holy dalam ungkapan Otto adalah mysterium tramendum et fascinans, misteri yang meng-gentar-kan, sekaligus meng-getar-kan. Nah diskursus tentang fenomena agama sebagai fenomena pengalaman agama ini justru diabaikan oleh para atheis mutakhir, karena bias positivismenya. Para atheis mutakhir justru jatuh dalam penghakiman: agama dianggap sebagai delusi kolektif. Sandarannya Freud, tapi dipelintir.

Itu adalah penilaian yang main hantam kromo (berarti tidak ilmiah), dan mengabaikan begitu saja adanya authenticity dalam beragama. Authenticity yang dimaksud adalah apa yang dialami dan dirasakan oleh para pemeluk agama itu sendiri, berdasarkan perspektif internal mereka. Untuk bisa mendapatkan kebenaran tentang authenticity tersebut, pendekatannya harus hermeneutika, (menilik makna dari dalam), bukan positivisme.

Mungkin para atheis mutakhir akan ngeles, pengalaman tentang Tuhan tak sama dengan Tuhan. Mereka ngotot mempersoalkan eksistensi Tuhan. Di sini para atheis mutakhir, disadari atau tidak, memaksakan definisi mereka tentang “eksistensi” untuk diterapkan ke Tuhan. Di sini larinya ke filsafat bahasa: ketika kaum theis bilang Tuhan itu ada, apakah makna “ada”-Nya sama dengan “ada”-nya yang selain Tuhan? Ketika atheis mutakhir menuntut pembuktian keberadaan Tuhan, mereka mengasumsikan arti “ada” untuk Tuhan ya sama dengan arti “ada” secara umum. Padahal kaum theis memaknai kata “ada” untuk Tuhan secara berbeda dengan “ada” untuk selain-Nya.

Simak misalnya pandangan Agustinus tentang analogi. Menurut Agustinus, kalo theis bilang Tuhan itu “ada”, dari segi linguistik tak mencukupi karena “ada” mengacu pada kenyataan material. Padahal Tuhan itu, menurut keyakinan kaum theis, immaterial. Sejatinya gak terlukiskan kata-kata, tapi kan tetep perlu dibahasakan. Di situ berlaku prinsip analogi; Tuhan ada, sebagaimana makhluk juga ada. Tapi keberadaan Tuhan gak sama dengan keberadaan makhluk. Kaum atheis mutakhir menyamakan begitu saja makna “eksistensi” bagi Tuhan dan non Tuhan. Padahal kaum theis gak memahami seperti itu. Ini problem bahasa.

Argumen di atas menegaskan, “kamu ga perlu mempertanyakan agama orang lain. Pendapat orang dan bagaimana orang merasakan itu beda-beda.” Tapi itu seperti ‘menghindar’ dari pokok bahasan. Melihat ada banyak banget Tuhan dan agama, mana yang benar? Apakah dengan ‘merasakan spiritualitas’ itu sama dengan validasi agama? Apakah agama jadi ‘benar’ kalo ada yang ‘membenarkan’?

Padahal banyak banget poin antar agama yang bertentangan, dan agama jelas merasa punya dia yang benar dan lainnya salah. Membenarkan semua jelas ga mungkin. Mengingat Tuhan adalah puncak kebenaran dan segala omnipotensi dalam berbagai agama, jadi jelas dia entitas yang ada, mau dibilang ‘ada’-Nya berbeda dengan mahluk atau apalah, itu ga penting. Pembuktian empiris juga ga penting. Yang penting adalah tau dia entitas berada. Tapi versi siapa? Ada ribuan agama dalam puluhan ribu tahun manusia jalan di atas bumi.

Menggunakan argumen hermeneutik jadi semakin menunjukkan bahwa sejatinya agama itu cuma anggapan manusia. Anggapan disini maksudnya: agama jadi penting cuma buat manusia. Pembuktian adanya Tuhan adalah kemustahilan, akhirnya manusia men-judge agama benar atau salah dari perasaannya masing-masing. Manusia jadi jatuh ke dalam 3 kategori:
1. Murni positivis. Tidak terbukti berarti tidak ada Tuhan.
2. Agnostik. Bahkan jika Tuhan ada, ngga ada cara memastikan keberadaannya dan ajaran mana yang benar. After all Tuhan ga pernah memberi pertanda secara langsung pada tiap individu. Therefore, bahkan jika Tuhan ada, tidak beragama adalah pilihan logis dan Tuhan harus maklum.
3. Beragama secara buta. Bahkan walaupun tidak terbukti, kamu percaya Tuhan karena kamu percaya dan merasa.

Sekarang aku mau clarify bahwa tulisan di atas adalah cerita mengalir dari seorang teman, saat kami ngobrol via chat. Jadi aku hanya merapikannya ke dalam susunan paragraf sambil menyingkirkan hal-hal yang di luar bahasan. Pembicaraan ini mungkin terjadi satu tahun yang lalu. Udah cukup lama tapi masih kusimpan. Ini topik yang sangat menarik dan berhasil dia kupas dari sudut pandang anti mainstream, selalu seru untuk dikontemplasikan lebih dalam. Kupikir dia enggan orang lain mengetahui ideologi yang dia pegang jadi aku tidak menyebut identitas temanku disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s