Euforia Kelulusan

Hari-hari sebelum wisuda aku biasa saja, begitu pula hari-hari setelahnya. Adapun postingan instagram yang sampai 4 kali itu sebagai wujud terima kasih dimana mayoritas orang-orang yang ingin diucapin pada taunya akun instagramku (okay bisa via fb juga tapi aku nggak suka upload di fesbuk), sedangkan kalau via blog sepertinya ga ada yang tau hehe. Jadi ya, semoga posts ig-ku belakangan tidak nyusahin mata para followers ig yang muak sama feed wisudaan.

Tapi kalau kamu tanya gimana perasaanku selama hari-H tanggal 1 April 2017, rasanya… seneng… banget. Terbukti bukan april mop dan hari itu aku ketemu banyak banget temen-temen dari lingkar pertemanan yang beda-beda. Rasanya ngeliat mereka, dipeluk mereka, dikasih kado, pada minta foto bareng… I was beyond blessed. Aku engga tau kalau momen ini bisa segini manisnya. Barangkali karna ada prosesi arak-arakan yang memungkinkan ketemu sama banyak orang dalam rentang waktu yang cukup panjang sambil orang-orang itu sempet buat ketemu sama temen-temen wisudawan mereka yang lainnya. Bersyukur sekali bisa ngerasain wisuda kampus ini, kampus gajah, salah satunya karna wisudanya yang beda. Jaman SMA mah boro-boro, kelar prosesi yaudah pulang. Sampe nyesel banget foto berdua sama ibu hilang entah kemana karna cuma dikit, jadi engga ada kenangan apapun tentang masa-masa akhir akselku.

Malem setelah wisuda aku merenung panjang, kosong rasanya melewati momen ini tanpa kehadiran ibu. Udah cukup lama aku engga nangisin ibu, udah lama sejak aku sadar aku gabisa berbuat apa-apa tentang kerinduanku pada ibu. But that night I found myself feeling helpless again. I miss her to the point it was suffocating. Deep down I never feel okay about losing her. I know right, I still got a complete pack of family if I don’t count her in. Ayah, Mbis, Mas, Safiq, Caca, Adek… I still have them and it’s a tremendous blessing to have them supporting me up until this very day.

Dan yang sering kudengar dari teman-temanku yang sudah lulus duluan tentang segala ketidakpastian nasib seorang jobseeker akhirnya kurasakan juga sekarang. Tapi engga apa, jalan ini memang harus ditempuh karna aku sebaiknya engga egois untuk lanjut kuliah lagi sementara aku sudah di fasa mampu untuk jadi penopang hidup. Entahlah, mimpi-mimpi berkuliah di luar masih membayang kadang-kadang.

We will never know what the future holds, but we can always look back and trace all the unlocked phases and achievements we’ve never imagined to accomplish before.

Dan sama yakinnya dengan kemampuanku untuk masuk dan lulus dari kampus gajah, aku tau aku akan berhasil di tahap yang lebih advance di depan sana, hanya aku belum melihatnya saat ini. Poinnya adalah kerja keras dan terus berpikir positif.

I’m beyond blessed to have everything I have today.

One comment

  1. Hilmi · September 12, 2017

    nyari adek ku yang cuma satu aja pusing, karena banyak manusia. and finally ketemu dan seneng banget. 🙂
    ini kali pertama menghadiri wisuda di kampus lain. beda banget sama wisudaku dulu. rasanya, seperti, malu, saat berada dikerumunan orang-orang keren.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s