Balada Bikin SIM

I know right, I’m a bit too old for this. Status ‘kan sudah mahasiswa tingkat akhir (lewat). Well, memang selama tinggal di Bandung aku tidak merasakan urgensi punya sim (C). Meski sejak SMA sudah terbiasa ke sekolah bawa motor, tapi sejujurnya baru belakangan ini aku berupaya bikin sim. Saat lulus SMA aku baru memasuki usia 17 tahun dan langsung ke Bandung untuk kuliah, cari tempat tinggal dekat kampus sehingga orangtua ga terbebani untuk bawain motor. Ya walaupun terkadang pengen juga. Nah setelah 4 tahun kuliah akhirnya aku ((baru)) fokus ngerjain tugas akhir dengan penelitian di Tangsel. Disana, mau ga mau harus pakai motor. Dari sinilah aku mulai ngeyel pada diri sendiri gimanapun caranya harus punya sim. Sebetulnya akhir juli tahun lalu aku sudah melaksanakan permohonan sim baru dengan lulus ujian teori tapi ujian praktek gagal. Kegagalan perdanaku kala itu disponsori oleh kaki yang turun padahal masih di jalan zigzag. Yak, malu-maluin. Karena buru-buru kembali ke Bandung, berkas permohonan sim tersebut terbengkalai selama setahun.

Tahun ini, usai lebaran, kubulatkan tekad untuk tes lagi. Awalnya aku berpikir untuk mengulang prosesnya dari awal, namun iseng aku coba serahkan berkas tahun laluku itu dan petugas langsung memprosesku ke dalam daftar mengulang ujian praktek. Apes, dapat urutan pertama. Second attempt ini masih dengan cerobohnya kujalani tanpa persiapan. Aku gak latihan sama sekali. Alhasil aku mengulang kesalahan yang sama. Kaki turun di jalan zigzag lagi. Bermodalkan tampang melas aku memohon supaya rentang waktu ke ujian ketiga diperpendek sebab akan segera kembali ke Tangsel. Aku mendapat kesempatan untuk mengulang 5 hari kemudian. Agak mendingan, kali ini H-1 aku latihan. Dengan seperangkat ember, tong sampah, kotak jajan, dan sejumlah sendal, aku dibantu dua saudara laki-lakiku bikin simulasi patok untuk jalan zigzag di depan rumah. Beruntung rumah kami punya jalan lebar di depan yang jarang sekali ada kendaraan lewat. Malam itu aku mati-matian latihan supaya bisa seimbang melewati jalan zigzag tanpa kaki turun. Yah lumayan, dari puluhan kali mencoba setidaknya ada belasan upaya yang berhasil. Esoknya dengan dagdigdug aku datang lagi ditemani Syafiq. Kali ini sengaja masuk agak belakangan supaya tidak kebagian tes pertama. Benar saja, aku berhasil melewati jalan zigzag dengan lancar…… tapi bodohnya saat harus belok kanan di putaran angka delapan, aku belok kiri. Yak, gagal lagi di percobaan ketiga dengan vonis salah arah. Aku mulai desperate mengingat sisa waktu yang sangat pendek sebelum akhirnya kembali ke Tangsel. Selanjutnya aku berhasil memohon agar dua hari kemudian diperkenankan mencoba lagi.

Percobaan ke-4. Malam sebelumnya aku latihan sebentar untuk mengingat-ingat di kepala agar belok kanan di angka delapan, BUKAN belok kiri. Setelah cukup meresap dalam otak, kusudahi latihannya. Aku tidak lagi mengantri untuk dapat nomor antrian sejak pagi buta sebab setelah dua kali ujian praktek aku baru ngeh kalau peserta mengulang ujian praktek itu tidak butuh nomor antrian. Pagi itu aku datang dekat pukul delapan. Sengaja masuk belakangan dan beruntungnya dapat nomor urut 9. Artinya ada banyak waktu untuk nonton yang lain ujian sambil berusaha menstabilkan mental biar ga grogi. Sebagian peserta berhasil, namun ada juga yang gagal. Tiba giliranku maju. Aku suka sekali sama petugas satu ini. Orangnya sangat ramah. Pak Eko Syamsi namanya. Walaupun ini ujian ke-4, ga ada sedikitpun perasaan bete kepada beliau yang sudah menggagalkanku berkali-kali haha. Aku puter-puter dulu agak lama sampai terbiasa menggunakan motor yang disediakan. Ga mau sok pede padahal masih belum tenang. Pak Eko neriakin terus supaya sampe stabil dulu dan ngingetin agar ga mangap mulutnya. Haha beliau menghapuskan kegrogianku yang diiringi tawa penonton alias warga lain yang juga sedang mengurus sim. Akhirnya aku mulai. Dan. Lancar. Jaya.

Kaki ga turun. Sukses melewati jalanan zigzag. Lalu haluan dan melewati jalur sempit. Lalu membentuk angka delapan tanpa salah arah. Dan terakhir parkir. Selesai.

Akhirnya lulus juga ujian sim ini. Dengan wajah sumringah dan senyum mengembang, kuhampiri Pak Eko yang menandatangani berkasku. Berkaspun distempel dan aku cap sidik jari.

Side story:

Pagi itu sebelum masuk untuk ujian praktek ke-4, dua orang wanita berpakaian pink berbincang dengan keras mengenai jalur lain. Terdengar sepenggal kalimat, “cuma lima ratus ribu, sama Pak Ini.” Setelah melakukan komunikasi via teks dan gerbang dibuka, kami masuk untuk tujuan yang berbeda. Aku ke tempat ujian praktek, sementara mereka berdua langsung masuk ke gedung. Saat menanti agar berkasku diproses sehingga bisa dapat kartu sim, dua orang tersebut keluar, dengan salah satu memegang sebuah sim baru. Hari itu aku tidak diperbolehkan untuk langsung mengurus pembuatan sim. Prosedurnya yaitu agar aku kembali tiga hari kemudian.

Dengan kekeuh keesokan harinya aku mencoba datang lagi. Tidak ada waktu lagi karena keburu pulang ke Tangsel.

Aku tiba jam setengah delapan pagi dan antrian untuk foto sim sudah mengular. Petugas menegaskan bahwa yang menjadi prioritas untuk dilayani adalah yang sudah pegang resi. Yap, aku belum pegang karena hari sebelumnya tidak diizinkan membayar. Aku menunggu sangat lama hingga hiruk pikuk di depan gerbang kantor polisi mulai terurai. Tinggal sedikit orang tersisa dan waktu menunjukkan pukul sebelas. Aku sudah bete dan mulai ngomel-ngomel ke mas Aziz yang entah kenapa nyamperin kesana. Kami berdua sampai mengatur jadwal agar aku kembali lagi ke Malang di bulan Agustus nanti, mengingat keesokan harinya aku sudah berangkat ke Jakarta. Yap, kami lihat-lihat lagi tiket kereta api dan untungnya masih banyak. Aku sudah mulai mengikhlaskan hari itu dan berniat pulang.

Tiba-tiba seorang bapak yang nasibnya sama dan sempat kena curhatanku melambaikan tangan memanggil, ngajakin masuk bareng ke dalam. Wait what?

Yap, kami diperbolehkan mengurus sim hari itu!!!

Setelah melalui serangkaian proses dan penantian panjang lanjutan, pukul satu siang kartu sim sudah kupegang :”

Alhamdulillah. Rasanya mengurus sesuai prosedur itu melegakan. Hehe walaupun cuma sim C tapi aku tetap dengan senang hati membagi cerita di sini. Moga-moga someday bisa ceritain kisah bikin sim A ya 🙂