Catatan Pendakian: Gunung Cikuray

11873655_1197298616952296_3918999704714459427_n

Was one unexpected journey along with the other three pals.

17/08/15
Meeting point kami di kubus, depan kampus. Setelah ngaret satu jam kami berempat bertemu satu sama lain. Ini pertemuan pertamaku dengan mereka setelah libur panjang 3 bulan di akhir tingkat 3 lalu. Lia, dargo, wildan. Mereka saling terikat dalam unit u-green, sementara kedekatanku hanya sebatas teman sejurusan dengan lia dan dargo. Aku baru mengenal wildan.
Setelah mempersiapkan dengan matang segala keperluan, kami berangkat ke Garut dengan sepeda motor. Perjalanan panjang yang bikin pantat sakit, ditambah harus melewati macetnya pawai 17-an di bawah terik matahari.

Empat jam kemudian kami sampai di dasar Cikuray. Jalanannya benar-benar bukan untuk sembarang kendaraan. Pukul 12.30 kami istirahat sejenak untuk sholat. Cikuray sedang kering. Kami bahkan terpaksa berwudhu pakai air minum bekal meski masih di kaki gunung. Sekitar pukul 13.30 kami tancap gas naik gunung sungguhan. Hari itu ada 1600-an orang sedang turun gunung. Rupa-rupanya mereka naik tanggal 16, agar bisa melakukan upacara bendera di puncak pada pagi 17 Agustus. Namun ide itu terlalu mainstream sehingga dapat dibayangkan betapa penuhnya puncak pagi itu. Dan memang, saat kami naik melalui kebun teh, pasir tak kunjung reda bertaburan di udara. Medan Cikuray yang mayoritas terlapisi pasir tebal, ketika dilalui akan menjadikan pasir-pasir yang terdorong kaki beterbangan di udara. Bayangkan saja ratusan orang turun berbarengan dengan kami yang baru naik. Sulit sekali rasanya untuk sekedar menghirup napas!
Aku bahkan galau antara ingin pakai masker menghindari kemasukan pasir, atau tidak pakai biar lebih mudah mencari-cari oksigen. Dari awal langsung ketahuan akulah yang paling lemah. Kesulitan mengatur napas bikin badan cepat ingin berhenti tiap baru mendaki sedikit. Untungnya mereka bertiga pengertian. Namun lama kelamaan intensitas pasir menurun dan staminaku pun mulai stabil, sehingga bisa cukup seirama dengan yang lain. Kalau kata dargo, paru-parunya udah kebuka jadi lebih enak. Aku sebenarnya ga paham paru-paru kebuka tuh bagaimana.

Setelah sekian lama mendaki, aku jadi sadar kalau trek ke puncak benar-benar menanjak tanpa ada bonus! Kurang ajar betul. Tapi kami berempat menyanggupi untuk lanjut terus pantang mundur.
Menurut dargo yang sudah pernah kemari sebelumnya, kami akan menemui sebanyak 7 pos. Namun perjalanan dari pos 1 ke pos 2 yang sangat lama mulai bikin desperate. Padahal hari sudah semakin sore. Tiap bertemu pendaki yang turun, mereka akan menyemangati kami dengan gayanya masing-masing. Ada yang bilang dikit lagi, ada juga yang bilang masih jauh. Kami tak ambil pusing dan terus mendaki. Tiap bertemu pendaki, kelihatan lah kalau dargo itu super ramah dan pintar bergaul sama orang baru. Mau ga mau kami juga ketularan ramah ke orang-orang. Sampai di pos 4 hari mulai gelap, sialnya kami ketemu babi hutan. Saksi mata alias dargo bilang si babi seukuran anak sapi. Dari situ kami mulai parnoan. Setelah beberapa kali putar balik dan maju lagi untuk menghindari segala kemungkinan perjumpaan dengan hewan buas, akhirnya kami mulai kehabisan tenaga pukul 9 malam. Saat itu pos bayangan sudah dilewati dan sedikit lagi sampai puncak. Dingin yang menyergap dan ketidaktahuan akan seberapa jauh sisa trek yang harus dilalui membuat kami mulai meyakinkan diri untuk berhenti. Yak, ngecamp dulu.

Dan memang, dingin banget malam itu. Aku buru-buru pakai jaket dua lapis sebelum kami pasang tenda. Walau sudah ngantuk berat, tetap perut harus diisi lebih dulu. Minuman hangat dan nasi agak keras pun lewat kerongkongan. Tak lupa sholat untuk menutup hari yang melelahkan. Kami susah tidur gara-gara ada bunyi langkah kaki di sekitar luar tenda yang kedengaran seperti berjalan mengelilingi tenda kami. Serem abis. Padahal di luar tidak ada nyala senter, gelap; pekat. Walau takut, tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas.

18/08/15
Pukul 4 dargo heboh ngebangunin. Dingin cuy. Lia dan wildan mager parah dan kami hampir saja melewatkan kesempatan buat ngejar sunrise. Untungnya kami memaksakan diri untuk menyentuh hawa pagi Cikuray yang dinginnya kurang ajar. Setelah siap-siap secukupnya, kami cus carrier-less nanjak ke puncak (kecuali wildan yang bawain makanan). Ringan betul! Setelah kemarin seharian nanjak tanpa bonus dengan carrier yang berat, sekarang kami jalan tanpa beban. Dan tak diduga, jarak dari camp ke puncak tidak sampai 1 jam.

Puncak, kawan. 2821 meter di atas permukaan laut! Belum genap pukul 5 pagi dan kami sudah disana. Mentari belum hadir, tak banyak orang, suasana masih cukup gelap. Aku mendongakkan kepala dan hamparan langit berhias gemintang tersaji indah di angkasa. Siapa yang tak bahagia bisa stargazing dengan pemandangan sejernih ini? Bahkan tidak sulit untuk membedakan sabuk Orion di antara beribu gemintang yang tampak. Langit, kawan. Selalu membuatku takjub.

Rupa-rupanya kami berempat memang banci kamera. Jepret sana jepret sini. Apalagi ketika mentari mulai terbit, kami tak hentinya mengabadikan momen sunrise tersebut. Mungkin lain kali, ketika aku menggapai puncak lain, aku akan lebih banyak duduk menikmati pemandangan yang cuma sebentar itu.
Mulanya aku mengira di sekeliling puncak tertutup oleh kabut tebal, tapi tentu saja aku salah. Selimut awan tebal terhampar luas ke sepanjang horizon!
Tak lama usai momen sunrise lewat, kami menyusuri sisi lain dari puncak Cikuray, dan menemukan segitiga bayangan gunung Cikuray terbentuk akibat pantulan sang mentari. Indah betul! Dari puncak kami bisa melihat puncak-puncak lain menjulang di kejauhan. Membuat kepalaku berandai-andai seperti apa medan gunung-gunung tersebut dan kapan aku akan mendakinya.

11873531_1197290726953085_1164253262186465042_n

11934971_1197294456952712_335915504823525254_n

11935025_1197294350286056_8118075265118324016_n

11923244_1197275873621237_6957230401360216929_n

Usai pagi yang indah kami sarapan di puncak. Semua kuserahkan pada yang jago masak pakai misting dan peralatan hiking. Pagi itu kami makan sarden. Setelah puas kami kembali ke camp dan beristirahat 1 jam sambil packing untuk turun gunung. Tak terasa semua begitu cepat berakhir. Karena puncak telah dicapai jadi saatnya untuk pulang. Dan kawan, turun gunung jauh lebih mudah daripada naik. I barely felt tired at all. Sepanjang turun aku diikuti lebah iseng yang terus-terusan terbang mengelilingi kepalaku. Tentu saja aku parno dan panik. Tapi untungnya tak sampai disengat.

Perjalanan yang menyenangkan, dengan lia yang heboh tapi sedang pilek, wildan yang tenang tapi galak waktu aku parno gara-gara lebah, dan dargo yang super mengayomi dan dapat diandalkan di semua situasi!

11896127_1197293550286136_7063089825315577365_n

11035688_1197295060285985_1408079825028335193_n

11870872_1197294690286022_8413133979991757798_n

11870928_1197294963619328_2673007524277886320_n

11923195_1197294176952740_3841347361117340292_n

11915670_1197298846952273_5149567243070209664_n

11889602_1197282133620611_5330937089239578391_n

A sweet escape before the campus life begins all over again.
Walau singkat, tapi pengalamannya sangat berarti, kawan. Manis semanis madu!

Bisa jadi aku vakum lagi dari naik gunung, atau justru dapat kesempatan jadi pendaki ulung akibat ketagihan. Yang manapun, semoga dapat partner yang sama asiknya dengan mereka.