Z?

“Tuhan Maha Adil kan, Di?” ujarmu saat kita berjalan keluar dari ruang kelas usai kuis mata kuliah fisika matematik.

Aku tak mengerti mengapa kau bertanya demikian. Sesusah apapun soal kuisnya kita kan sudah terbiasa menerima keadaan. Aku hanya tersenyum dan bilang, “Semua pasti ada hikmahnya.”

Kau tersenyum dan berlalu.

Kupikir memang soal ujiannya akan sulit, berkaca dari kuis yang baru saja kukerjakan tadi. Lantas aku mencoba mengerjakan ulang dan rasanya menyenangkan. Tak apalah tadi tidak bisa, asal sekarang jadi mengerti. Soal yang sulit memaksa kita untuk memberi usaha lebih. Menuntut kita untuk memahami lebih dalam. Karena seringkali kita cuma mengerti di permukaan. Mungkin.

Ada hal-hal yang mudah sekali diambil hikmahnya, seperti kuis tadi, tapi banyak pengalaman lain yang cuma jadi misteri, mengapa harus terjadi dan apa hikmahnya. Terkadang aku sampai lelah memikirkan dan ingin melupakannya. Tapi hal-hal yang paling ingin dihapus seringkali justru jadi ingatan terkuat di kepala. Kenapa sih?

Sekarang aku ingin menanyakan hal yang sama padamu, “Tuhan Maha Adil kan, Z?”