Judging

Dalam mengenal seseorang, sudah dapat dipastikan bahwa kita akan membuat penilaian-penilaian. Terlebih jika pertemuan dengan orang tersebut berlanjut dan menjadi sebuah hubungan, entah teman kos, teman sekelas, teman nongkrong; yang jelas hubungan yang ada rutinitas bertemunya. Hubungan yang demikian akan menimbulkan rasa ingin tahu di benak, untuk mengeksplor lebih jauh diri seseorang tersebut. Kita tak lagi sekedar menilai tentang penampilannya, wajahnya, sikap sosialnya, apakah pendiam atau moderator lawan bicara. Tetapi semakin dekat, semakin intim pula pengamatan kita terhadap orang tersebut. Dalam sekejap kita sama sekali mengabaikan apakah ia tampan atau biasa-biasa saja; dalam sekejap kita tak lagi memedulikan hal-hal semacam itu. Yang kita pedulikan adalah kehadirannya, pembicaraan-pembicaraan dengannya yang menciptakan rasa nyaman, sehingga dari situ kita bebas melihatnya, mengamatinya, dan membuat penilaian.

Ketika bertemu orang baru, jujur yang langsung kuberi penilaian adalah fisiknya. Bagaimanapun kita bertemu wujudnya lebih dahulu. Kecuali jika pertemuan itu berawal dari dunia maya. Mengapa menilai fisik, barangkali untuk menghafal dan menandai ciri khas orang tersebut agar tidak mudah lupa. Usai itu jika pertemuan menjadi suatu rutinitas, aku mulai mengamati pola berpikirnya, mencari ciri khas dari tutur katanya, menghafalkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang orang tersebut lakukan, dan lain-lain.

Dalam kaitannya dengan aspek penilaian, itu semua bergantung dari individu yang menilai. Dan pemikiran dari tiap manusia pastilah sangat menarik, jika mereka terang-terangan dalam mengutarakan pendapatnya satu sama lain. Namun tentu saja ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan terbenam di pikiran masing-masing. Lebih baik menjadi misteri. Adalah sebuah anugerah bagi kita untuk tidak dapat membaca pikiran orang lain. Kata seorang teman,

Biarlah kita saling menafsir dan menerka. Biarlah misteri tumbuh bersama masa lalu yang kemudian berbuah bersama sejarah. Sehingga di masa depan kita dapat memetik pelajaran-pelajaran. Yang entah apa itu, namun aku yakin adalah hal-hal yang berharga.

Catatan Pendakian: Gunung Gede Pangrango

Pra Pendakian

25 Desember 2013. Sebuah perjalanan yang begitu saja aku bergabung di dalamnya. Tim kami terdiri dari 11 orang, diantaranya Kak Udin dan Kak Ucup, dua orang yang pertama kukenal, duo Purwekerto yang kabarnya sudah lama bersahabat. Lalu ada Mela, seorang perempuan yang sangat periang, 180 derajat berlawanan denganku. Kemudian ada Mas Haryo yang pendiam dan selalu tersenyum misterius, juga trio dari Sidoarjo: Chef Juna, Mas Andry dan Mas Irhas. Tiga orang ini ditambah Mas Haryo adalah tim dari Setapak Backpacker. Ada pula Kak Yacob yang datang dari Jakarta sendirian. Orang-orang ini ditambah aku berkumpul di basecamp Mata Angin, yang sebenarnya adalah kos-kosannya Kak Udin di kebon bibit.

Pra perjalanan, kami mencari damri dengan menuju halte yang ada di dekat Dukomsel. Kupikir tak sering ada rombongan dengan masing-masing membawa carrier besar (kecuali aku dan Mela yang lebih diringankan) berjalan beriringan di jalan raya. Singkat cerita kami sampai Leuwi Panjang kemudian naik bus ke Sukabumi.

Sampai di Sukabumi kami bertemu dengan dua anggota tim lainnya: Teh Ami dan Mas Adit. Lengkap sudah kami bersebelas berangkat ke Pondok Halimun dengan nyarter angkot. Sore itu siluet jingga di horizon yang beririsan dengan pekatnya langit malam benar-benar membuatku takjub.

Pondok Halimun yang damai, tempat ini merupakan bagian dasar dari trek Selabintana yang akan kami ambil untuk mencapai Puncak Gede. Malam itu kami tiba dan langsung beristirahat disana. Airnya dingin membekukan, padahal ini masih di dasar. Sungainya deras, dan nasi goreng ibu penjaga warung sungguh lezat tiada tara.

Pendakian

Selabintana – Cileutik – Alun-alun Surya Kencana – Puncak Gede – Kandang Badak – Puncak Pangrango – Mandalawangi – Curug Cibereum – Cibodas

26 Desember 2013. Sudah pagi dan kami pun berbenah. Setelah semua siap sekitar pukul 7.00 kami berangkat masuk ke gerbang TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango).

1476177_714597381884894_1963914107_n

Belum apa-apa trek yang kami lalui langsung menanjak. Secara mental aku langsung down. Tapi terus saja kaki ini kami langkahkan sejauh yang kami mampu, hingga ada yang minta break. Begitu seterusnya, setiap sekian lama mendaki, break, mendaki lagi, break lagi. Yang paling asik adalah: Selabintana ini terkenal dengan pacetnya. Sejenis hewan penghisap darah macam lintah, tapi kecil dan seringkali tidak disadari saat dia sudah nempel di tubuh kita. Yang paling pertama teriak kena pacet Mela, aku tidak kena sih, tapi sempat parno sendiri karena merasa ada yang aneh di dalam sepatu, dan setelah dibuka tidak ada apa-apa. Haha

 

1526807_714431575234808_1093955303_n

Jauh sekali, rasanya. Sampai sekitar pukul 13.00 kami sampai di Cileutik, air terjun mini yang dingin sekali! Disana terpampang papan yang mengisyaratkan bahwa kami sudah berjalan sejauh 6,5 km dan masih ada 2,5 km lagi di depan. Eh apa sudah 8,5 km ya? Aku lupa. Yang jelas itu cukup bikin sumringah. Dan kami pun beristirahat sejenak disana. Awan mendung berkelebat, rintik kecil datang dan pergi. Chef  Juna dan Mas Andry unjuk kebolehan untuk yang pertama kalinya: memasak. Ya, mereka yang memasak untuk kami. Tiga orang perempuan disini malah asik main air terjun, duduk-duduk santai. Hehe kami menyerahkan pada masternya.

Sekitar pukul 15.00 kami melanjutkan perjalanan, treknya menanjak dan lebih merepotkan! Rasanya kami cukup sering mengambil break. Dan Mela sakit, Mela yang ceria langsung saja jadi diam karena menahan rasa sakit. Ah kasihan sekali. Oh iya Kak Yacob juga sakit sejak awal pendakian, dia banyak diam.

Berjalan dan terus berjalan, kami pun tiba di Alun-alun Surya Kencana! Berbagai macam imajinasi menguak di benakku membayangkan kata ‘alun-alun’. Ah pasti ramai, banyak pedagang, suasana hangat orang-orang lalu lalang. Dan aku salah. Surya Kencana adalah sebuah padang rumput yang sangat luas, dengan Edelweiss yang tumbuh dimana-mana. Sepi dan dingin. Sepertinya tak ada rombongan pendaki lain yang mengambil jalur panjang Selabintana, kebanyakan lebih suka lewat Cibodas yang nyaman. Di surken kami mendirikan camp, lagi-lagi para perempuan tidak diminta melakukan apapun, biarlah yang laki-laki saja yang mengurus kami :p

994400_714433041901328_1425957945_n

1545630_714435481901084_374548170_n

1506884_714434571901175_489873519_n

1531886_714440461900586_19215614_n

Malam panjang yang dinginnya menusuk-nusuk. Yang kami inginkan hanya istirahat. Tak lupa minuman hangat serta makan malam dibuatkan oleh para koki andalan. Tak ada gemintang, aku juga lelah, jadi setelah semua kewajiban terlaksana (solat, makan, mengganti pakaian dengan yang kering), kamipun tidur. Kupikir dengan kondisi selelah itu aku bakal tak sadarkan diri (baca: pulas) tapi ternyata susah sekali untuk tidur. Selain dingin yang menyergap, badanku sakit semua dan kasur tanah disana sedang tidak bersahabat denganku.

27 Desember 2013. Pagi pukul 4.00 para perempuan sudah berisik di tenda. Hari itu kami berkemas lagi sebab tentu saja, kami sudah berada di dasar Puncak Gede! Ingin sih mengejar sunrise di puncak, tapi sepertinya tidak mungkin jadi kami baru memulai pendakian sekitar pukul 7.00 pagi. Kalau kemarin Selabintana terasa melelahkan karena panjang, kali ini kami kewalahan karena naik ke Puncak Gede benar-benar terjal dan menanjak. Tapi semua bersemangat karena katanya ini hanya akan memakan sekitar 45 menit, sebentar sekali!

1546104_714476968563602_1799016548_n

Benar saja, tak lama kamipun tiba di Puncak Gede, sebuah pemandangan di atas awan yang membisukan. Literally, aku jadi bisu melihatnya. Haha itu karena lagi badmood sih barangkali. Tapi indah, sungguh. Dan ada sedikit bau belerang yang menguar dari kawahnya. Semua nampak gembira karena ini salah satu target utama kami, mencapai Puncak Gede.

554494_714440641900568_1537304441_n

72301_714440968567202_88700438_n

579353_714479651896667_12502884_n

Setelah itu perjalanan dilanjutkan. Hal paling seru yang kami lalui di trek ini adalah Tanjakan Setan! Atau apapun istilahnya, tanjakan ini membuatku benar-benar harus percaya pada yang membimbingku di bawah, karena kalau tidak mungkin aku bisa jatuh. Haha agak lebay sih. Disitu baru aku tahu bahwa sepertinya aku takut ketinggian, yah, mungkin. Habis aku tak pernah sebegitu takutnya. Pun begitu semua tetap saja ngeksis dan minta difoto saat menuruninya, termasuk juga aku. Haha

1530352_714445568566742_1465231019_n

Setibanya di Kandang Badak; sebuah camp ramai yang cukup sempit, kami mendirikan tenda dan beristirahat. Sekitar pukul 14.00 kami berbenah untuk ke puncak yang kedua, Pangrango. Saat itu Mas Irhas sakit, jadi dia diminta istirahat saja dan tidak ikut ke Pangrango. Hitung-hitung jaga tenda, barangkali. Hehe. Kali ini kami tidak bawa carrier atau yang berat-berat sama sekali, cukup jaket tebal dan sarung tangan saja. Yang membawakan perlengkapan cukup satu orang dan aku lupa siapa. Yang jelas senang sekali bisa naik seringan itu.

Trek ke Pangrango bisa dibilang absurd! Banyak dahan pohon jatuh, sempit, dan sangat menanjak. Wah sebuah pendakian yang melelahkan meski tanpa bawa beban. Tapi semakin jauh semakin terbiasa jadi tidak begitu terasa capek lagi. Setelah sekitar 3 jam kami mendaki, akhirnya sampai juga di Puncak Pangrango yang terkenal itu. Sama sekali berbeda dengan Puncak Gede, Pangrango lebih menyajikan keheningan hutan yang misterius. Bahkan aku tidak merasa sedang berada di sebuah puncak. Disana ada sebuah bangunan tak terpakai dan sebuah monumen, entah monumen apa, tapi ada bekas ukiran bertuliskan Soe Hok Gie disitu.

1525697_714482695229696_1093357092_n

Yah, kami tak berlama-lama di Pangrango, karena hari sudah sore. Segera saja kami lanjut turun ke Mandalawangi. Sebuah padang yang mirip sekali dengan Alun-alun Surya Kencana, sangat mirip, tapi entah mengapa rasa senang yang kudapat disana tak bisa dibandingkan dengan saat di tempat lain manapun. Ketika berjalan mengikuti aliran sungainya, ia mengarahkanku pada sebuah pertemuan dua lembah dimana matahari turun ke tengah-tengahnya. Mengingatkanku pada gambar pemandangan anak SD yang dulu sering kubuat. Lebih dari itu, tempat ini benar-benar membuatku merasa, “Inilah heaven’s trail-ku, tempat impian yang ingin sekali kukunjungi itu.”

1510870_714439685233997_1411679653_n

996691_714483055229660_1415696200_n1524719_714449228566376_1384459779_n

1534350_714483591896273_82063734_n

1535521_714429275235038_706159926_n

Dingin Mandalawangi tak lama kemudian menyergap. Tetap saja aku ingin tinggal. Tempat itu membuatku merasa nyaman, dan penasaran sekaligus.

Sebelum gelap menyelimuti, kami segera saja memutuskan untuk kembali ke Kandang Badak. Sebuah perjalanan paling seru yang kudapat sejauh pendakian kami, turun gunung di kegelapan! Kami berpasangan dua-dua untuk menghemat senter, dan sudah menjadi default aku berjalan di belakang orang terdepan. Kak Udin memimpin tim mencarikan jalur pulang. Seru sekali meski sebenarnya menyeramkan juga kalau aku berpikir yang tidak-tidak. Baru sekitar pukul 21.00 kami sampai kembali di camp. Aku tidak begitu lelah, rasanya ingin menghabiskan malam itu dengan berjalan-jalan, tapi tentu saja tidak mungkin. Lagipula tak ada gemintang, mendung.

Esoknya tibalah kami di hari terakhir, saatnya pulang. 28 Desember 2013. Pagi hari kami berbenah menata kembali barang-barang. Perjalanan menuju Cibodas jauh lebih mudah dibanding trek Selabintana. Jalan disana lebar dan sudah disusun batu-batu. Pantas saja orang-orang suka lewat jalur ini. Kami terus berjalan, banyak air terjun kecil terlalui, ada pula air panas!

1505447_714486745229291_579220428_n

Kami bermain-main disana cukup lama, menyenangkan sekali. Setelah itu kami lanjut lagi dan ternyata jalannya cukup merepotkan, selain airnya yang panas batunya pun licin,  kalau sampai tercebur entah akan ada yang menolong atau tidak haha. Lagi-lagi berjalan dan kami sampai di Curug Cibereum! Sebuah air terjun besar yang ramai sekali. Jembatan yang mengarah kesana terbuat dari beton putih yang disusun sedemikian rupa seperti jejeran dahan pohon. Romantis sekali. Saat melewatinya seperti mengingatkanku pada suasana di Jurassic Park. Konyol sekali pikiranku.

Di curug kami beristirahat cukup lama. Tempat itu adalah tempat wisata yang banyak dikunjungi keluarga, lebih banyak lagi orang pacaran. Memang tempat yang manis sih, tapi tak semanis Mandalawangi. Disana ada tiga air terjun besar yang berkumpul jadi satu. Jika saja lebih sunyi tanpa keramaian para pengunjung, mungkin akan terasa lebih menakjubkan saat mencoba memejamkan mata dan mendengarkan orkestra kombinasi kesunyian pepohonan dan suara air terjun.

Habis sudah destinasi-destinasi utama kami, sempat kami mengunjungi Telaga Biru, yang menurutku airnya hijau. Setibanya di Cibodas, Kak Udin langsung mengurus simaksi dan kamipun keluar dari taman nasional ini.

1513692_714490588562240_775726667_n

1476258_714490878562211_872155246_n

Di perjalanan ke Balai (apa gitu), aku terpisah dari rombongan, bodoh sekali seperti di sinetron. Saat itu aku sedang mencari sebuah hadiah untuk seorang teman yang tak pernah kutemukan di Bandung dan tempat lain, mencoba peruntungan aku mencarinya disini. Dan, voila! Aku dapat. Aku beli dua biar afdhol, lantas saat keluar dari toko si ibu, tak kudapati kawan-kawanku yang lain. Karena menganggap semua berjalan di depan, yasudah kususuri saja jalan panjang toko-toko cinderamata disitu sambil melihat-lihat, barangkali ada barang keren lain dijual disana. Tau-tau aku sudah ada di gerbang depan, dan disana hanya ada seorang pedagang terompet. Akupun mengobrol dengannya cukup lama. Lalu kucoba menyalakan handphone, puluhan pesan masuk bertubi-tubi. Ah, ada sms dari Kak Udin! Kubuka pesan itu dan ternyata memang benar aku sudah berjalan kejauhan hehe.

1532080_714492678562031_662703901_n

Pulangnya kami naik bus, sebuah penantian panjang sampai akhirnya kami harus nyarter angkot lebih dulu baru kemudian dapat bus ke Bandung.

Pulang, ya. Perjalanan pendakian yang seru. Ini dua puncak pertamaku, kalau aku mengabaikan Bromo yang tanpa membutuhkan effort sudah bisa dicapai dengan mudahnya. Gede dan Pangrango, pengalaman pendakian pertama yang tak akan pernah terlupakan. Jika yang lain punya berbagai motivasi keren seperti ingin mendakinya untuk yang kedua kali; ingin bertemu Edelweiss; ingin menambah jumlah puncak dalam daftar pengalaman pendakian; ingin ke tempat yang membuat Soe Hok Gie jatuh cinta…

Dibanding motivasi-motivasi menarik milik orang lain itu, aku hanya terdorong oleh pemikiran, aku ingin mencoba hal baru yang aneh ini. Aku tidak peduli puncak mana yang kudaki, sungguh. Nama Gede Pangrango saja aku baru dengar karena pendakian ini.

Baru sekian hari berpisah dan aku sudah merindukanmu lagi. Rindu pada Mandalawangi. Rindu pada tim luar biasa kami. Rindu pada lelahnya mendaki.

Ah kuharap aku masih punya kesempatan untuk naik gunung lagi, nanti.

581039_714480108563288_1242868478_n