Ideal yang bagaimana?

Suatu hari pas mau eval wisuda di sekre himpunan, sempat nimbrung obrolannya beberapa kakak tingkat yang lagi nongkrong disitu. Salah satu dari mereka bilang,

“Gua gatau ntar bakal gimana abis lulus. Karena dunia kerja ga akan sesederhana yang kita jalani pas kuliah sekarang. Kalo mau sukses, bakalan sulit untuk ngejaga idealisme yang selama ini udah kita pegang. Ohya jangan samain idealisme dengan agama ya. Itu beda. Idealisme tuh kayak misalnya lu seumur hidup ga pernah makan telur, pokoknya ga suka dan ga akan mau makan telur sampe kapanpun; itu idealisme. Atau ada nih temen lu yang janji seumur hidupnya ga bakal bikin akun facebook. Itu juga idealisme. Dan idealisme itu seringkali bertentangan dengan jalan kita menuju sukses, sehingga sering kita terpaksa untuk menelan prinsip dan melanggar idealisme yang sudah kita pertahankan dalam waktu lama. Gua.. gatau bakal gimana nantinya.”

Demikian dia galau. Trus ada yang lempar pertanyaan definisi sukses sendiri itu bagaimana.. dan aku ditanya mau jadi apa. Wow. Spontan sih, karna ga ada gambaran apapun, aku nyeletuk bodoh, “Aku mau jadi istrinya orang sukses aja.” Dengan definisi kesuksesan yang masih kubentuk seiring berjalannya waktu. Haha malu-maluin.

Kalo dipikir lagi, yang namanya idealisme itu, melihat dari definisi kakak tadi, menurutku ada yang oke ada yang enggak. Dan yang perlu kita lakukan adalah cukup dengan mempertahankan yang oke aja. Pikir lagi lah ambil contoh terdekat soal bikin akun facebook. Udah tau hampir semua orang ngegunain, jadi bisa keep contact untuk berbagai link all over the world through it kan? Informasi-informasi penting dari organisasi atau teman banyak yang dibagi disana. Kalo dipikir-pikir cuma bikin akun facebook doang, apa salahnya? Kenapa memaksa diri untuk nggak membuka koneksi lewat situ. Kenapa menjadi ideal harus demikian menyulitkan hidupmu. Lain cerita dengan nggak nyontek saat ujian. Jujur sebagai idealisme. Dengan prinsip seperti itu, kita jadi nggak akan mengentengkan ujian-ujian, jadi belajar keras kalau mau berhasil, dan itu positif bukan? Pikir juga dampak masa depannya, dengan membiasakan diri untuk jujur, bukankah hidup di dunia kerja nantinya bakal jadi orang bersih yang banyak dipercaya?

It’s a matter of choice sih.. mungkin ya, untuk menentukan apakah idealisme kita itu tepat, kita perlu menganalisis faktor kelebihan dan kekurangannya dengan mendetail. Biar kita tau dan memaksa diri untuk sadar, gimana sih prinsip yang kita perjuangkan itu.